This is how the night supossed to looked..

This is how the night supossed to looked..

Leave a comment »

Earth hour 2013

here is some earth hour 2013 photo from internet to you..

earth-hour-stl

r741049_6062368

ss-110326-earth-hour-05a.ss_full

Leave a comment »

Yuk bikin Kos-kosan go green


Filed in: lain-lain, pengetahuan tambahan :: Written by andre on June 4th, 2011 7:57 am :: Viewed 52 times

Sebenarnya tulisan ini adalah tantangan dari mas alamendah’s (bisa di baca di sini). Tugasnya adalah membuat tulisan tentang “Forests: Nature at your Service” atau “Hutan Penyangga Kehidupan” tapi berhubung saya tidak begitu mengerti tentang hutan, ya.. tulisan ini tidak akan ada hubungannya dengan hutan. Tapi tak apalah tulisan ini khusus saya buat untuk sama-sama merayakan hari lingkungan hidup tahun 2011 yang jatuh tanggal 5 Juni 2011.

Saat ini jumlah kos-kosan di kota besar terus bertambah, ini disebabkan semakin besarnya jumlah penduduk yang merantau untuk belajar(seperti kota jogja, surabaya, malang, bandung, dll) maupun untuk bekerja di tempat tersebut. Dengan bertambahnya jumlah penduduk di kota, pasti bertambah juga jumlah sampah terutama sampah rumah tangga dari kos-kosan tersebut. Kebetulan saya termasuk orang yang pernah merasakan hidup dan tinggal di kos-kosan.

Memang sih diperlukan kesadaran bersama untuk dapat menanggulangi bertambahnya jumlah sampah di kos. Apalagi kos-kosan merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam karakter orang dari berbagai macam daerah. contohnya saja nih, di kos-kosan saya orang nya ada yang dari Bali, Ambarawa, Magelang, Lampung, Tarakan, Kalimantan Barat, Palembang, dan Ambon, belum lagi bapak kos beserta keluarga. Tentu perilaku, karakter penghuni, dan konsumsi sampahnya pasti berbeda-beda.

Anggap saja seorang anak membeli makan dari minimarket atau warung nasi, tentu pasti juga akan membawa bungkus plastik ke area kos. Selain itu sampah juga bisa dihasilkan dari kertas-kertas dari tugas kuliah, atau sampah dari peralatan rumah tangga. Coba saja kalau asumsikan masing-masing orang menghasilkan sampah 1 ons tiap harinya. Dikalikan jumlah orang dan jumlah hari dalam sebulan, tentu saja sudah sangat banyak jumlah sampah yang terkumpul di satu kos saja. Itu baru satu, bagaimana yang lain?

Solusinya bagaimana?

Mungkin kita tidak bisa langsung untuk mengurangi jumlah sampah, tapi sebisa mungkin untuk melakukan penghematan barang-barang yang bisa menghasilkan sampah. Selain itu, lebih baik lagi kalau di tiap kos dibuat tong sampah khusus sesuai dengan kategorinya. Tiap kos-kosan menyediakan tong sampah untuk 3 jenis sampah, yakni tempat sampah organik, tempat sampah beracun, dan non organik. Dan nantinya sampah-sampah tersebut diolah untuk didaur ulang ataupun dibuang ke TPA secara berkala. Mungkin dari hal kecil inilah nantinya akan membantu terjaganya linkungan di sekitar, terutama linkungan sekitar kos-kosan tersebut.

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Bagaimana semuanya, setujukah? Atau ada saran lain?

Sekian dulu untuk tulisan ini, sudah malam dan saya sudah ngantuk. Selamat malam.

Teknologi dan alam

Dua hal yang mestinya saling terkait, teknologi dan alam, bisa bekerja sama harapannya seperti siklus perputaran terjadinya hujan; dari sumber lautan luas, uap air dibantu panas matahari, membentuk kristal-kristal bibit hujan di awan, dan pada saatnya akan turun hujan membasahi, mengairi sungai, danau dan lautan kembali. Begitu seterusnya, demikian juga yang diharapkan dengan teknologi dan alam.

Berbicara Teknologi yang penulis persempit lagi pada dunia Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (IT), maka banyak didapat masalah juga peluang untuk membuat Teknologi tersebut menjadi ramah terhadap alam dan lingkungan.

Tulisan dibawah,meninjau dari sisi Produsen IT:

Sudut peluang yang terbaik demi harmonisasi teknologi dan alam, dari pihak Produsen dapat memanfaatkan hal yang memang segera harus dilakukan, tidak semata untuk keuntungan bisnis tapi juga demi kelestarian alam. Memang masih banyak yang meragukan gerakan green computing yang digaungkan para produsen di bidang IT. Tetapi tidak dapat disamaratakan, antara produsen yang bermuslihat dagang dengan yang memang peduli dengan hal itu.

Meski belum optimal, dengan beragam faktor penunda, namun rintisan yang dilakukan untuk membuat produk yang lebih ramah lingkungan, layak dihargai.

Seperti contoh:

Produk yang bermaterial hasil daur ulang untuk beberapa jenis ponsel, tidak hanya bodi ponsel tersebut,tetapi juga mendayagunakan tenaga alam untuk menjalankan kinerjanya. Baterai dengan sumber daya liquid atau air tengah dikembangkan.

Produk yang dilengkapi dengan penangkap sinar matahari sumber energi semakin banyak beragam. Mulai dari baterai untuk gadget bertenaga matahari dengan aneka bentuk unik, hingga flash drive yang bisa menangkap sinar untuk sumberdaya LCD panelnya.

Untuk perangkat komputer, ramah pada alam lingkungan tak selalu diartikan sebagai wajib bermaterial daur ulang atau bersumber energi yang dapat diperbaharui. Saat ini konsep ramah lingkungan pada produk komputer dan periferal berada dalam tahapan bagaimana meminimalkan asupan energi atau sumber daya listrik, baik dengan menciptakan komponen baru atau membuat sistem yang lebih hemat daya.

Beberapa produk memang menggunakan bahan yang didaur ulang. Beberapa produsen juga mengeluarkan versi refurbished. Sayangnya untuk saat ini produk yang dikatakan lebih ramah lingkungan dan hemat listrik harganya masih lebih tinggi dibandingkan yang “standar”.

Mahalnya produk tersebut lebih dikarenakan karena imbas dari biaya riset untuk pengembangan teknologinya.
Berakibat akan timbul pertanyaan, apakah ramah pada alam,tidak ramah Produsen?
Kelihatannya memang sebagian besar metode untuk menjadi konsumen IT yang ramah lingkungan bertentangan dengan apa yang disarankan (diinginkan) oleh sebagian besar produsen IT, seperti : selalu perbaharui sistem operasi anda, gunakan aplikasi keamanan sebanyak-banyaknya atau juga jangan isi ulang cartridge tinta – karena semuanya akan mengurangi margin keuntungan produsen tersebut.

Tetapi jika memang para produsen tersebut betul-betul peduli lingkungan, mereka seharusnya memikirkan solusi lain. Misal dengan menciptakan sistem operasi yang lebih stabil dan lebih ringan dan lebih aman tanpa harus memaksa konsumen terus menerus meng-upgrade hardware sistemnya, atau menyediakan solusi isi ulang tinta yang resmi dari produsennya dan jika tidak mungkin menawarkan untuk menukarkan cartridge yang sudah kosong dengan tinta baru dengan harga lebih murah.

Sebagai konsumen, kita punya kekuatan. Produsen memang bisa mempengaruhi tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dalam menentukan produk-produk apa yang akan dipilih konsumen. Para produsen hanya bisa mengikuti kemauan pasar.

Jadi, sebagai konsumen yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, kenapa kita tidak memilih untuk menggunakan produk-produk yang lebih ramah lingkungan ?
Dengan demikian produsen juga mau tidak mau akan berinovasi untuk menghasilkan produk-produk yang lebih hijau dan alami.

Dan sangat optimis, jika banyak produsen makin sadar “hijau”, dan produk ramah lingkungan kian banyak, akan berdampak pada penyesuaian harga. Dan semua lapisan konsumen dapat menikmatinya….semoga

Leave a comment »

Poster

Leave a comment »

5 Kota Terhijau di Dunia

Kota Hijau 5: Malmo Swedia.

Malmo berpenduduk 280.000 orang, yang membuatnya kota terbesar ketiga di Swedia. Kota ini terletak di provinsi Skane di daerah selatan dan terdiri dari kanal, pantai, taman, pelabuhan, dan blok-blok yang masih menjaga nuansa Abad Pertengahan. Namun bukan aura Abad Pertengahan itulah yang membuatnya lulus untuk masuk daftar ini. Melainkan ide kreatif kota Malmö dalam berinovasi menggunakan Sumber Daya Alam yang dapat diperbaharui dan menjadi kota hijau pelopor.

Swedia adalah pelopor dalam solusi listrik hijau — sebagian besar sumber listrik negara datang dari nuklir dan air. Kota seperti Malmö juga berkontribusi dalam menghijaukan Swedia dengan rencana mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 25% antara tahun 2008 dan 2012, melebihi target 5% yang ditetapkan oleh Protokol Kyoto.

Untuk mencapai target ini, kompleks di seantero Malmö telah dirombak menjadi daerah ramah lingkungan, terutama di Pelabuhan Barat, Taman Sege dan Augustenborg.

Pelabuhan Barat, bekas dok kapal dan sekarang berpenduduk padat, dijalankan 100% dari tenaga surya, angin, air, dan biofuel yang diolah dari kotoran organik. Bangunan-bangunan yang ada dibangun dari bahan ramah lingkungan dan didesain untuk efisien energi, dan jalanannya juga mudah ditelusuri pejalan kaki dan pengguna sepeda — 30% pengguna jalan memilih untuk bepergian menggunakan sepeda.

Selain itu, pemulihan daerah Taman Sege, transformasi ramah-lingkungan lainnya, juga akan menstok daerah itu dengan sumber daya hijau termasuk fotovoltaik (listrik surya), tenaga angin, dan biofuel.

Augustenborg, distrik yang sudah menjadi hijau selama dekade belakangan, terkenal dengan pengatapan hijau — atap berlapis taman yang mengurangi pembuangan energi dan menambah insulasi dan vegetasi di daerah urban tersebut. Augustenborg juga memiliki trem bebas-emisi pertama di dunia, dan lebih dari selusin pusat daur ulang yang mengolah sekitar 70% bahan sampah yang terbuang.

Kota Hijau 4: Kopenhagen, Denmark

1,7 juta orang yang tinggal di Kopenhagen terkenal karena mereka lebih memilih menaiki sepeda atau kereta daripada mobil, tetapi transportasi hijau hanyalah satu bagian dari rencana ramah-lingkungan kota itu. Pada tahun 2006, Kopenhagen memenangkan Penghargaan Lingkungan Eropa karena saluran airnya yang bersih dan terobosannya dalam tata lingkungan. Apa yang membuatnya bereputasi? Air dan kincir angin.

Kota ini disanjung karena usahanya selama 10 tahun terakhir dalam menjaga kebersihan dan keamanan pelabuhannya. Pemerintah juga turut andil dalam menggunakan sistim peringatan kualitas air untuk memonitor level polusi.

Selain itu, Kopenhagen juga terkenal dengan kincir anginnya. Lebih dari 5.600 kincir angin menyediakan 10% pasokan listrik Denmark; dan pada 2001, Kopenhagon membuka taman kincir angin lepas pantai terbesar di dunia. Taman ini mampu memasok 32.000 unit rumah di kota itu; sekitar 3% dari kebutuhan listriknya.

Kota Hijau 3: Portland, Oregon, AS.

Portland terletak di sisi Sungai Willamette di Pasifik Baratdaya dan berpenduduk lebih dari 500.000 orang. Kota ini sudah menjadi model gaya hidup ramah lingkungan selama beberapa dekade terakhir, dengan mencampur komponen urban dan areal terbuka.

Kehijauan kota ini sudah tidak baru lagi. Semenjak adanya “Laporan untuk Badan Taman Portland” pada tahun 1903, Portland telah menjadi inspirasi untuk kota-kota di seluruh Amerika Serikat dan dunia untuk mencakupkan areal hijau dalam tata kota mereka. 30 tahun lalu, Portland terus memimpin dengan merombak sebuah jalan tol berjalur enam untuk menjadi taman waterfront. Kini Portland memiliki kurang lebih 92.000 are daerah hijau, termasuk 119 km jalur sepeda, pendakian, dan berlari, dan telah memberlakukan batas pengembangan kota untuk melindungi sekitar 25 juta are hutan dan ladang pertanian.

Portland adalah kota pertama di Amerika Serikat yang memberlakukan rencana pengurangan emisi gas rumahkaca dan juga salah satu anggota pelopor “Cities for Climate Protection Campaign”. Kota ini telah meraih posisi top di Amerika Serikat dan dunia selama beberapa tahun belakangan dan memiliki 50 gedung yang mencapai (atau bahkan melebihi) standar ramah lingkungan yang ditetapkan oleh Badan Bangunan Hijau AS, bersama dengan pencampuran arealnya antara untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda — sekitar 25% pengguna jalan bersepeda ke tempat kerja mereka.

Untuk ke depannya, Portland memiliki target energi yang ambisius. Untuk 2010, kota ini berencana untuk mensuplai 100% energinya dari SDA yang dapat diperbaharui, termasuk langkah-langkah inovatif seperti meteran parkir bertenaga surya.

Kota Hijau 2: Vancouver, Kanada

Vancouver adalah kota pesisir, berpenduduk 560.000 jiwa dan disebut sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali oleh majalah The Economist. Ternyata, kota ini tidak hanya nyaman untuk ditinggali namun juga sebagai acuan Kanada sebagai pengguna SDA yang dapat diperbaharui.

Vancouver memimpin dalam penggunaan teknologi yang berkembang.

Vancouver memiliki rencana 100-tahun untuk hidup hijau dan bersih. Kota ini juga memimpin dalam penggunaan listrik dari tenaga air, yang kini mensuplai 90% dari total energi.

Selain itu, Vancouver juga mengimplementasikan teknologinya yang berkembang. Penyimpan sampah bertenaga surya telah dapat ditemukan di seantero kota, berukuran sama seperti tempat sampah biasa namun mampu menyimpan lima kali lipat jumlah sampah (yang membuat kota itu membutuhkan lebih sedikit truk sampah beremisi di jalanan).

Kota Hijau 1: Reykjavik, Eslandia

Reykjavik adalah kota terkecil dalam daftar kita kali ini, dengan hanya penduduk 115.000 jiwa di kota tersebut dari sekitar 300.000 jiwa di seluruh negeri Eslandia. Namun dampaknya pada dunia patut diacungi jempol.

Eslandia berencana melepaskan ketergantungannya pada bahan bakar fosil pada tahun 2050 untuk menjadi sebuah ekonomi hidrogen. Kini, Reykjavik (dan seluruh Eslandia) mendapat energi untuk kalor, air panas dan listrik seluruhnya dari tenaga air dan sumber geotermal — yang keduanya dapat diperbaharui dan bebas dari emisi gas rumahkaca. Beberapa kendaraan juga menggunakan hidrogen, termasuk tiga bis kota.

Sumber : http://www.impijatengdiy.com/berita/37-perkotaan/58-5-kota-terhijau-di-dunia.html

Leave a comment »

Kartun Lingkungan Hidup 2

Leave a comment »

Kartun Lingkungan Hidup 1

Leave a comment »